Showing posts with label Ponpes. Show all posts
Showing posts with label Ponpes. Show all posts

Sunday, June 30, 2013

Pondok Pesantren Al-Anwar

Sekilas Tentang Pondok Pesantren Al-Anwar

Pondok pesantren Al Anwar merupakan pondok murni yang dirintis oleh Syaikhina KH. Maimoen Zubair, bukan merupakan pondok peninggalan atau warisan. Sepulangnya beliau dari study di Makkah Al Mukarromah, banyak santri yang berdomisili di pesantren Sarang yang berkeinginan untuk belajar kepadanya. Maka, pada tahun 1967 dibangunlah sebuah musholla sederhana yang terletak di muka ndalem beliau sebagai tempat untuk para santri yang mengaji. Di sinilah awal mula cikal bakal PP. Al Anwar.

Melihat besarnya animo dari para santri yang berkeinginan nyantri dan khidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair, maka dengan bangunan seadanya, musholla tersebut dijadikan sebagai pondok. Bangunan sederhana tersebut mereka gunakan untuk menginap sekaligus untuk lebih fokus dalam mengaji dan khidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair. Oleh mereka sendiri, pondok yang diasuh putra KH. Zubair ini diberi nama POHAMA yang merupakan kependekan dari Pondok Haji Maimoen. Kemudian selang beberapa tahun, untuk mengenang Abah beliau, KH. Zubair Dahlan yang sebelum menunaikan ibadah haji bernama KH. Anwar, POHAMA dirubah namanya menjadi Pondok Al-Anwar.

Perkembangan jumlah santri PP. Al Anwar cukup pesat, sehingga menuntut adanya pembangunan di bidang fisik. Pada tahun 1971, musholla direnovasi dengan menambahkan bangunan di atasnya yang kemudian di sebut dengan Khos Darussalam (DS), juga dibangun sebuah kantor yang berada di sebelah Selatan ndalem Syaikhina KH. Maimoen Zubair. Seiring dengan bertambahnya santri, maka pembangunan secara fisik pun terus dilakukan. Tercatat pada tahun 1973, telah dibangun Khos Darunna'im (DN), tahun 1975 Khos Nurul Huda (NH), tahun 1980 Khos Al Firdaus, dan masih banyak lagi pembangunan fisik yang lain. Termasuk dibangunnya Gedung Serba Guna (GSG) PP. Al Anwar berlantai lima pada tahun 2004 yang diresmikan oleh Wakil Presiden RI, Bapak DR. H. Hamzah Haz. Juga, pada tahun 2005 dibangun Ruwaq Daruttauhid PP. Al Anwar yang setelah selesai pengerjaannya digunakan sebagai tempat pertemuan (Multaqo) alumni Sayyid Muhammad Alawy Al Maliki Makkah Al-Mukarromah. Hingga saat ini pembangunan secara fisik terus berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan. Pada tahun 2012, telah selesai pembangunan khos baru dengan nama Darus Sunan Al-Arba’ah (DSA).

Seiring dengan perkembangan PP. Al-Anwar, berawal dari sebidang tanah yang dimiliki Syaikhina KH. Maimoen Zubair dan hasil pembelian tanah milik tetangga, juga termotivasi akan kondisi masyarakat sekitar pada saat itu yang belum rutin mengerjakan shalat 5 waktu serta minimnya kemampuan mereka dalam membaca Al-Qur'an, maka pada tahun 1977, Syaikhina KH. Maimoen Zubair bersama istri beliau, Nyai Hj. Masthi'ah, merintis berdirinya Pondok Pesantren Putri Al-Anwar dengan membangun Musholla di belakang rumah yang semula berdindingkan anyaman bambo (gedhek).

Lambat laun masyarakat menunjukan perubahan, mereka mulai suka pergi ke musholla untuk mengikuti kegiatan yang dilaksanakan di sana, mulai dari shalat jama'ah hingga Diba'iyyah yang dilakukan setiap malam Jum'ah dan juga banyak anak-anak mereka yang mulai menetap di Musholla. Hingga sekarang (Tahun 2009 red), PP. Putri Al Anwar mengalami perkembangan yang pesat dengan + 500 santri yang menetap dan dengan fasilitas 29 kamar, perpustakaan, 6 auditorium dan masih banyak lagi fasilitas yang lainnya. Perkembangan pesantren yang diasuh tokoh ulama' yang sangat antipati terhadap penggunaan istilah Kitab salaf dengan nama kitab kuning (karena dinilai merupakan suatu penghinaan terhadap kitab salaf) ini sangat signifikan. Grafik menunjukkan pada tahun 2009, jumlah santri Al Anwar mencapai lebih dari 2000 santri, yang tersebar dari berbagai penjuru daerah di Indonesia, baik Jawa maupun luar Jawa, seperti Kalimantan, Sulawesi, Lampung bahkan sampai Papua. Juga, mereka terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan, mulai dari SD, MI, SLTP, SLTA sampai Sarjana.

Pada tahun 1995, KH. M. Najih Maimoen, putra Syaikhina KH. Maimoen Zubair yang juga alumni dari pesantren Abuya Sayyid Muhammad Alawy Makkah Al-Mukarromah merintis dibangunnya khos Darusshohihain (DH) di bawah pengawasan Abuya Sayyid Muhammad Alawy Al-Maliky. Juga, didirikan Khos yang khusus sebagai wadah bagi santri-santri putri yang berkeinginan untuk menghafal Al-Qur'an pada tahun 1996 di bawah asuhan Ibu Nyai Hj. Mutamimah Najih Maimoen yang notabene adalah seorang yang Hamilatul Qur'an.

Sistem pendidikan yang diterapkan di Pesantren Al-Anwar adalah sistem salafiyah, di mana para santri diwajibkan mengikuti pengajian masyayikh atau ustadz, baik dengan pendekatan sistem bandongan (collective learning process) maupun sorogan (individual learning process). Juga, diharuskan bagi santri untuk mengikuti pendidikan Muhadloroh (MHD) atau Madrasah Ghozaliyyah Syafi'iyyah (MGS) sampai tingkat Aliyah dan melanjutkan pada Ma'had Aly yang mana sebelum resmi menjadi Ma'had Aly disebut dengan istilah PPTM (Program Pasca Tamatan Madrasah) dengan jenjang pendidikannya sampai dua tahun.

Kegiatan lain yang harus diikuti santri adalah Mudzakaroh, meliputi mudzakaroh Fathul Qorib, Fathul Mu'in, Syarah Mahally dll. Mudzakaroh merupakan suatu bentuk pembahasan secara spesifik pada suatu kitab yang dijadikan bahan kajian yang kemudian diimplementasikan pada permasalahan-permasalahan yang ada. Dan juga masih banyak lagi kegiatan yang lain.

Perkembangan PP. Al Anwar terbagi menjadi tiga model. Pertama, PP. Al Anwar I yang dikhususkan bagi santri yang ingin mendalami ilmu-ilmu agama secara murni. Kedua, PP. Al Anwar II sebagai wadah bagi santri-santri yang ingin mempelajari sains dan teknologi tanpa meninggalkan pesantren sebagai wahana untuk mendalami ilmu agama. Ketiga, PP. Al Anwar III sebagai wadah mencetak sarjana-sarjana yang islami. Letaknya pun terpisah, PP. Al-Anwar I terletak di desa Karangmangu, Sarang, Rembang. Sedangkan PP. Al Anwar II dan PP. Al Anwar III ini terletak di Dusun Gondanrojo, Kalipang, Sarang, Rembang. Letaknya kurang lebih 3 km dari desa Karangmangu ke arah barat.

Menanggapi tuntutan zaman yang sangat menuntut kesiapan dalam segala aspek, Pondok Pesantren Al Anwar Sarang yang notabenenya sebagai suatu lembaga Non Formal yang secara tegas mempertahankan nilai-nilai Salaf kini juga bersiap-siap menelurkan generasi yang juga dapat dibanggakan dalam bidang formal dengan tetap menjadikan pelajaran Salaf sebagai pondasi pembentukan akhlaq, dengan mendirikan suatu badan lembaga pendidikan formal di bawah naungan LP Ma'arif NU tingkat SD, SLTP danSLTA dengannama MI, MTs dan MA. AL-ANWAR.

Tujuan yang mendasar dari didirikannya MI, MTs dan MA Al Anwar tersebut tidak hanya untuk mempelajari ilmu-ilmu umum saja, tapi juga dikemas rapi dengan memasukkan pelajaran salaf guna memberikan bekal para muridnya untuk memperoleh keseimbangan antara IMTAQ dan IPTEK, sehingga pada akhirnya tujuan akhir kebahagiaan dunia akhirat dapat dicapai.

Pada 15 September 2003, awal sejarah diresmikannya sebuah lembaga formal yang didirikan oleh Syaikhina Maimoen Zubair yang bertujuan untuk dijadikan suatu tempat memperdalam ilmu-ilmu yang berbasis kompetensi sesuai rujukan dari pemerintah yang dalam hal ini dari Departemen Agama (sekerang Kementerian Agama) dan juga mempelajari ilmu-ilmu salaf yang menginduk dari Ponpes Al Anwar Sarang.

Tahun 2006, MTs Al Anwar telah meluluskan sekitar 121 siswa. Untuk saat ini MTs Al Anwar memiliki siswa 346 siswa dari kelas VII sampai dengan kelas IX. Sampai saat ini MTs Al Anwar terus berusaha untuk berbenah diri untuk selalu mensukseskan apa yang dikehendaki Syaikhina dengan selalu pro aktif dalam segala aspek demi tercapainya tujuan tersebut.

Tidak berhenti sampai di situ, pada 21 September 2006 Ponpes AL Anwar juga telah membuka lembaga pendidikan setingkat SLTA dengan nama Madrasah Aliyah Al Anwar yang sampai saat ini masih berjalan pada tahun ketiga, dengan jumlah siswa 243 siswa terbagi menjadi enam kelas, yaitu kelas putra 132 siswa dan 111 siswi. Dan pada tahun 2007 juga telah dibuka lembaga pendidikan setingkat SD dengan nama Madrasah Ibtida'iyah Al Anwar yang sampai saat ini telah berjalan pada tahun kedua dengan jumlah siswa 30 siswa siswi.

Namun meskipun demikian, konsep Salaf yang diusung oleh Program pendidikan berbasis formal ini sangat kental dan memang menjadi satu harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Hal inilah yang membuat Al-Anwar berbeda dengan lembaga pendidikan formal lainnya, yang memang menjadi agenda utama dari didirikannya MI, MTs dan MA Al Anwar serta Sekolah Tinggi Agama Islam Al Anwar (STAI Al-Anwar)

Infrastuktur dan segala hal yang dibutuhkan untuk menunjang hal tersebut diatas kini terus diupayakan oleh pihak Ponpes Al Anwar, baik dalam bentuk bangunan fisik maupun non fisik. Alhamdulillah, bertepatan dengan harlah PP Al Anwar ke-42 telah selesai dirampungkan dan sekaligus diresmikan pembangungan PP Al Anwar 2 oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia DR. Ir. Muhammad Nuh DEA yang meliputi 1lokal gedung berlantai 2 untuk pemondokan santri putra dengan kapasitas tampung 300 santri dan satu kediaman KH Abdullah Ubab MZ (putra pertama Syaikhina KH. Maimoen Zubair yang sekaligus menjadi pengasuh PP AL Anwar 2) dan 1 lokal Gedung untuk fasilitas pemondokan santri putri dengan kapasitas tampung 300 santri yang dilengkapi dengan fasilitas yang memadai untuk menunjang proses belajar mengajar secara formal dan menjadi tempat menimba ilmu salaf sebagai fondasi dan bekal para santri. Pengadaan asrama bertujuan untuk menitiktekankan pada efektifitas pendalaman ilmu-ilmu salaf, karena nantinya juga akan diasuh oleh para ustadz di bawah naungan para masyayikh pondok pesantren Al-Anwar Sarang. Diharapkan para santri pada akhirnya betul-betul dapat terkondisikan dan selalu dalam pengawasan, dengan tujuan nantinya para siswa ini mampu terbiasa hidup disiplin, terampil, dan selalu menjadikan akhlaqul karimah sebagai nafas dalam kehidupannya.

Fasilitas yang ada di Al-Anwar III juga tidak kalah pentingnya. Mulai dari sarana prasana tempat kuliah hingga tempat pemondokan santri telah tersedia dengan bangunannya begitu megah. Bangunan di Al-Anwar III ini disebut dengan RUSUNAWA (Rumah Susun Al-Anwar) yang telah diresmikan oleh Menteri Agama RI, Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si dan Menteri Perumahan Rakyat (Menpera), Djan Faridz pada tahun 2012. Untuk ruang laboratorium Al-Anwar III telah diresmikan oleh DR. Ir. Muhammad Nuh DEA pada tahun 2013. Pesantren Al-Anwar III ini dikhususkan bagi mereka yang ingin melanjutnya pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi. Pesantren Al-Anwar III ini diasuh oleh Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen yang merupakan alumni Universitas Al-Azhar As-Syarief Mesir.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pondok pesantren Al Anwar tidaklah merubah karakter salafiyyah yang dimiliki tapi masih gentol untuk mempertahankannya, juga tidak menutup mata terhadap tuntutan zaman yang sarat dengan kemajuan dalam segala bidang utamanya dalam bidang sains dan ilmu pengetahuan lainnya, namun dalam kaitan tersebut Pondok Pesantren Al-Anwar tetap menjadikan pelajaran-pelajaran salaf sebagai pondasi sehingga merupakan menu wajib yang harus ada dalam semua tingkat pendidikan yang ada.

Sumber
Read More »

Sunday, April 7, 2013

Ponpes Langitan Tuban

Sejarah & perkembangan

Lembaga pendidikan yang sekarang ini dihuni oleh lebih dari 5500 santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan sebagian Malaysia ini dahulunya adalah hanya sebuah surau kecil tempat pendiri Pondok Pesantren Langitan, KH. Muhammad Nur mengajarkan ilmunya dan menggembleng keluarga dan tetangga dekat untuk meneruskan perjuangan dalam mengusir kompeni penjajah dari tanah Jawa

KH. Muhammad Nur mengasuh pondok ini kira-kira selama 18 tahun (1852-1870 M), kepengasuhan pondok pesantren selanjutnya dipegang oleh putranya, KH. Ahmad Sholeh. Setelah kira-kira 32 tahun mengasuh pondok pesantren Langitan (1870-1902 M.) akhirnya beliau wafat dan kepengasuhan selanjutnya diteruskan oleh putra menantu, KH. Muhammad Khozin. Beliau sendiri mengasuh pondok ini selama 19 tahun (1902-1921 M.). Setelah beliau wafat matarantai kepengasuhan dilanjutkan oleh menantunya, KH. Abdul Hadi Zahid selama kurang lebih 50 tahun (1921-1971 M.), dan seterusnya kepengasuhan dipercayakan kepada adik kandungnya yaitu KH. Ahmad Marzuqi Zahid yang mengasuh pondok ini selama 29 tahun (1971-2000 M.) dan keponakan beliau, KH. Abdulloh Faqih. Untuk lebih jelasnya tentang biografi para Pengasuh Pondok Pesantren Langitan dapat dibaca dalam Biografi Ringkas Lima Pengasuh Pondok Pesantren Langitan.



Perjalanan Pondok Pesantren Langitan dari periode ke periode selanjutnya senantiasa memperlihatkan peningkatan yang dinamis dan signifikan namun perkembangannya terjadi secara gradual dan kondisional. Bermula dari masa KH. Muhammad Nur yang merupakan sebuah fase perintisan, lalu diteruskan masa H. Ahmad Sholeh dan KH. Muhammad Khozin yang dapat dikategorikan periode perkembangan. Kemudian berlanjut pada iepengasuhan KH. Abdul Hadi Zahid, KH. Ahmad Marzuqi Zahid dan KH. Abdulloh Faqih yang tidak lain adalah fase pembaharuan.

Dalam rentang masa satu setengah abad Pondok Pesantren Langitan telah menunjukkan kiprah dan peran yang luar biasa, berawal dari hanya sebuah surau kecil berkembang menjadi Pondok yang representatif dan populer di mata masyarakat luas baik dalam negeri maupun manca negara. Banyak tokoh-tokoh besar dan pengasuh pondok pesantren yang dididik dan dibesarkan di Pondok Pesantren Langitan ini, seperti KH.Kholil Bangkalan, KH. Hasyim Asy'ary, KH. Syamsul Arifin (ayahanda KH. As'ad Syamsul Arifin) dan lain-lain.

Dengan berpegang teguh pada kaidah Al-Muhafadhotu Alal Qodimis Sholeh Wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah (memelihara budaya-budaya klasik yang baik dan mengambil budaya-budaya yang baru yang konstruktif), maka Pondok Pesantren Langitan dalam perjalanannya qenantiasa melakukan upaya-upaya perbaikan dan kontektualisasi dalam merekonstruksi bangunan-bangunan sosio kultural, khususnya dalam hal pendidikan dan manajemen.

Usaha-usaha ke arah pembaharuan dan modernisasi memang sebuah konsekwensi dari sebuah dunia yang modern. Namun Pondok Pesantren Langitan dalam hal ini mempunyai batasan-batasan yang kongkrit, pembaharuan dan modernisasi tidak boleh merubah atau mereduksi orientasi dan idealisme pesantren.

Sehingga dengan demikian Pondok Pesantren Langitan tidak sampai terombang-ambing oleh derasnya arus globalisasi, namun justru sebaliknya dapat menempatkan diri dalam posisi yang strategis, dan bahkan kadang-kadang dianggap sebagai alternatif

Lokasi & asal Nama
Pondok Pesantren Langitan adalah termasuk salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Berdirinya lembaga ini jauh sebelum Indonesia merdeka yaitu tepatnya pada tahun 1852 M, di Dusun Mandungan Desa Widang Kecamatan Widang Kabupaten Tuban Jawa Timur. Komplek Pondok Pesantren Langitan terletak di samping Bengawan Solo dan berada di atas areal tanah seluas kurang lebih 7 hektar serta pada ketinggian kira-kira tujuh meter di atas permukaan laut.

Lokasi pondok berada kira-kira empat ratus meter sebelah selatan ibukota Kecamatan Widang, atau kurang lebih tiga puluh iilo meter sebelah selatan i`ukota Kabupaten Tuban, juga berbatasan dengan Desa Babat Iecamatan Babat Kabupaten Lamongan dengan jarak kira-kira satu kilo meter. Dengan lokasi yang setrategis ini Pondok Pesantren Langitan menjadi mudah untuk dijangkau melalui sarana angkutan umum, baik sarana transportasi bus, kereta api, atau sarana yang lain. Adapun nama Langitan itu adalah merupakan perubahan dari kata Plangitan, kombinasi dari kata plang (jawa) berarti papan nama dan wetan (jawa) yang berarti timur. Memang di sekitar daerah Widang dahulu, tatkala Pondok Pesantren Langitan ini didirikan pernah berdiri dua buah plang atau papan nama, masing-masing terletak di timur dan barat. Kemudian di dekat plang sebelah wetan dibangunlah sebuah lembaga pendidikan ini, yang kelak karena kebiasaan para pengunjung menjadikan plang wetan sebagai tanda untuk memudahkan orang mendata dan mengunjungi pondok pesantren, maka secara alamiyah pondok pesantren ini diberi nama Plangitan dan selanjutnya populer menjadi Langitan. Kebenaran kata Plangitan tersebut dikuatkan oleh sebuah cap bertuliskan kata Plangitan dalam huruf Arab dan berbahasa Melayu yang tertera dalam kitab Fathul Muin yang selesai ditulis tangan oleh KH. Ahmad Sholeh, pada hari Selasa 29 Rmbiul Akhir 1297 Hijriyah.

Pendidikan & pengajaran

Pengajian Oleh KH. Abdulloh Munif MarzuqiPondok pesantren secara umum bagamanapun tipe dan latar belakangnya meletakkan pendidikan dan pengajaran sebagai tolak ukur bagi aktifitas-aktifitas lainnya. Dapat dikatakan bahwa pendidikan dan pengajaran merupakan jantung dan sumber kehidupan terhadap kelangsungan dan eksistensi sebuah pesantren.

1. TUJUAN

Tujuan pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren Langitan adalah tidak lepas dari tiga pokok dasar:

a. Membina anak didik menjadi manusia yang memiliki ilmu pengetahuan agama yang luas (alim) yang bersedia mengamalkan ilmunya, rela berkorban dan berjuang dalam menegakkan syiar Islam.

b. Membina anak didik menjadi manusia yang mempunyai keperibadian yang baik (sholeh) dan bertaqwa kepada Alloh SWT serta bersedia menjalankan syariatnya.

c. Membina anak didik yang cakap dalam persoalan agama (kafi), yang dapat menempatkan masalah agama pada proporsinya, dan bisa memecahkan berbagai persoalan yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat

2. METHODOLOGI

Sebuah program tanpa didasari oleh methode yang baik tidak akan berjalan efektif. Bahkan kadang-kadang dapat berbalik arah dari orientasi semula. Pondok Pesantren Langitan selama kurun waktu yang cukup panjang ini telah menerapkan beberapa methode pendidikan dan pengajaran dalam sistem klasikal (madrasiyah) dan non klasikal (ma’hadiyah).

A. SISTEM KLASIKAL (MADRASIYAH)

Sistem pendidikan klasikal adalah sebuah model pengajaran yang bersifat formalistik. Orientasi pendidikan dan pengajarannya terumuskan secara teratur dan prosedural, baik meliputi masa, kurikulum, tingkatan dan kegiatan-kegiatannya.

Pendidikan dengan sistem klasikal ili di Pondok Pesantren Langitan (baik pondok putra maupun pondok putri) telah berdiri tiga lembaga yaitu Al Falahiyah, Al Mujibiyah dan Ar raudhoh.

Lembaga pendidikan Al Falahiyah berada di pondok putra, lembaga pendidikan ini henjang pendidikannya mulai dari RA/TPQ dengan masa pendidikan selama 2 tahun, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah, masing-masing masa pendidikannya 3 tahun.

Lembaga pendidikan Al Mujibiyah berada di pondok putri bagian barat. Adapun tingkat pendidikannya adalah mulai dari tingkat MI, MTs dan MA, masing-masing selama 3 tahun.

Lembaga pendidikan Ar raudhoh berada di pondok putri di bagian timur. Fase pendidikannya adalah mulai MI, MTs, MA, masing-masing selama tiga tahun.

Ketiga lembaga di atas satu sama lain memiliki kesamaan dan keserupaan hampir dalam semua aspek termasuk juga kurikulumnya, karena ketiganya berada di bawah satu atap yaitu Pondok Pesantren Langitan . Adapun kurikulum Pondok Pesantren Langitan dapat dibaca pada “Daftar Kurikulum Madrasah Al Falahiyah Pondok Pesantren Langitan.

Sebagai penunjang dan pelengkap kegiatan yang berada di madrasah dan bersifat mengikat kepada semua peserta didik sebagai wahana mempercepat proses pemahaman terhadap disiplin ilmu yang diajarkan, maka di Pondok Pesantren Langitan juga diberlakukan ekstra kurikuler yang meliputi :

1. Musyawaroh atau Munadzoroh (diskusi)

Kegiatan musyawaroh berlangsung setiap malam mengecualikan malam Rabo dan malam Jum’at. Methode ini dimaksudkan sebagai media bagi peserta didik untuk menelaah, memahami dan mendalami suatu topik atau masalah yang terdapat dalam masing-masing kitab kuning.

Dari aktivitas ini diharapkan lahir sebuah generasi potensial yang memiliki pemikiran-pemikiran kritis dan berwawasan luas serta terampil dalam menyerap dan menggali suatu materi sekaligus mensosialisasikannya iepada masyarakat luas.

2. Muhafadhoh (hafalan)

Methodhe muhafadhoh atau hafalan adalah sebuah sistem yang sangat identik dengan pendidikan tradisional termasuk pondok pesantren. Kegiatan ini j5ga bersifat mengikat kepada setiap peserta didik dan diadakan setiap malam selasa. Adapun standart iitab yang dijadikan obyek hafalan (muhafadhoh) menurut tingkatannya masing-masing adalah ALALA, RO’SUN SIRAH, AQIDATUL AWAM, HIDAYATUSSIBYAN, TASHRIF AL ISTILAKHI DAN LUGHOWI, QOWAIDUL I’LAL , MATAN AL JURUMIYAH, TUHFATUL ATHFAL, ARBA’IN NAWWAWI, ‘IMRITHI, MAQSHUD, IDATUL FARID, ALFIYAH IBNU MALIK, JAWAHIRUL MAKNUN, SULAMUL MUNAWAROQ DAN QOWAIDUL FIQHIYYAH.

B. SISTEM NON KLASIKAL (MA’HADIYYAH)

Pendidikan non klasikal dalam Pondok Pesantren Langitan ini menggunakan methode wethon atau bandongan dan sorogan. Methode wethon atau bandongan adalah sebuah model pengajian di mana seorang kiai atau ustadz membacakan dan menjabarkan isi kandungan kitab kuning sementara murid atau santri mendengarkan dan memberi ma’na.

Adapun sistem sorogan adalah berlaku sebaliknya yaitu santri atau murid membaca sedangkan kiai atau ustadz mendengarkan sambil memberikan pembetulan-pembentulan, komentar atau bimbingan yang diperlukan. Kedua methode ini sama-sama mempunyai nilai yang penting dan ciri penekanan pada pemahaman sebuah disiplin ilmu, keduanya saling melengkapi satu sama lainnya.

Dalam pelaksanaannya qistem non klasikal (ma’hadiyah) ini dibagi menjadi dua kelompok:

1. Umum, yaitu program pendidikan non klasikal yang dilaksanakan setiap hari (selain hari Selasa dan Jum’at). Adapun waktunya beragam menyesuaikan kegiatan di madrasah. Pendidikan ini diasuh oleh Majlis Masyayikh, asatidz dan santri senior.

2. Tahassus yaitu program pendidikan khusus bagi santri pasca Aliyah dan santri-santri lain yang dianggap telah memiliki penguasaan ilmu -ilmu dasar seperti Nahwu, Shorof, Aqidah, Syariah. Program ini lebih populer disebut Musyawirin, diasuh langsung oleh Majlis Masyayekh. Adapun pelaksanaanya adalah setiap hari kecuali hari Selasa dan Jum’at, materi yang diajarkan adalah fan fiqh seperti Fathul Muin dan Mahalli, dan fan Hadits

source : langitan.net
Read More »